Minggu, 11 Desember 2011
Mukjizat Nabi Muhammad SAW
Selasa, 05 Juli 2011
Subhanallah ! Hujan Darah, Burung Dan Katak Sudah Ada Dalam Al Quran
Rabu, 19 Mei 2010
apa itu islam?
Islam adalah agama yang mudah, tidak sukar dan tidak sempit, Allah SWT. berfirman: "Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." (QS. Al-Hajj: 78) Allah SWT. juga berfirman: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185) dan asas Allah SWT. kepada agama ini secara dzahir ada lima rukun yaitu: Dua Syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji ke baitullah. dan di dalam akidah kita yaitu rukun iman, ada enam rukun yaitu: Iman kepada Allah SWT., Malaikat-Malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Kitab-Kitab-Nya, hari kiamat, dan ketetapan yang baik dan buruk. Kemudian keimanan dibagi kedalam rincian-rincian yang banyak, yaitu beberapa perintah dan larangan di dalam Syariat Islamiyah yang telah menghubungkan dalam jumlahnya kepada sebuah kejelasan, dan tujuh puluh cabang seperti yang dikabarkan oleh orang yang percaya dan dipercaya.
Sebuah Hadits Jibril as. yang menjelaskan rukun Islam dan Iman, diriwayatkan oleh tuan kita 'Umar ra. Berkata: Suatu ketika kami sedang berada di sebuah majlis bersama Rasulullah Saw. ketika itu muncul seoarang laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya, tidak terlihat kepadanya bekas perjalanan yang jauh, dan satupun dari kita tidak mengenalnya, kemudian dia duduk dihadapan Nabi Saw, lalu orang itu menyenderkan lututnya kepada lutut Nabi Saw., dan meletakan telapak tangannya di atas paha Nabi Saw., dan berkata: "Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam".
Maka Rasulullah Saw. bersabda: "Islam adalah kamu bersaksi bahwa tiada ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa di bualan Ramadhan, dan haji ke baitullah jika kamu mampu menjalankannya.". Orang itu berkata: "Kamu benar". 'Umar berkata: "Maka kami terkejut kepadanya, dia bertanya dan membenarkannya. Kemudian orang laki-laki itu bertanya lagi: "Lalu kabarkan lah kepadaku tentang iman". Nabi menjawab: "Kamu percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan takdir baik dan buruk". Dia berkata: "Kamu benar". Kemudian bertanya lagi: "Lalu kabarkanlah kepadaku tentang Ihsan". Nabi menjawab: "Kamu menyembah Allah seperti kamu melihat-Nya tetapi jika belum dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Beliau melihatmu". Lalu dia bertanya lagi: kabarkanlah kepadaku tentang hari kiamat. Nabi menjawab: "Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya". Lalu dia bertanya lagi: Kabarkanlah kepadku tentang janji hari kiamat. Nabi menjawab: "Ketika pembantu melahirkan anak, kamu melihat para pemimpin tanpa alas kaki sehingga ketergantungan dengan orang lain dan bangunan-bangunan semakin tinggi". Berkata 'Umar: "Kemudian orang laki-laki itu keluar maka aku timbul pertanyaan dalam hatiku, kemudian Nabi bersabda kepadaku: "Wahai 'Umar apakah kamu mengetahui siapa orang yang bertanya itu". Aku berkata: "Allah dan Rasul lebih mengetahui". Rasul berkata: "Sesungguhnya dia adalah Jibril, dia datang untuk memberi pengetahuan tentang agama kalian" (HR. Muslim: juz 1 hal. 37) Dan Nabi Saw. mengkabarkan tantang cabang iman, lalu Nabi berkata: "Sebuah kejelasan bahwa tujuh puluh cabang iman dan sifat malu adalah sebagian cabang iman" (HR. Bukhari: juz 1 hal. 63)
Adapun dengan penamaan Islam dengan kata Islam: sesungguhnya Islam adaah agama yang selamat dan diselamatkan oleh Allah Tuhan semesta alam, maka Islam adalah agama yang mengajak Muslim untuk berpasrah kepada Allah yang satu dan melepaskan dari segala sesuatu yang selainnya dari Tuhan-Tuhan, patung-patung sampai segala sesuatu yang menjadikan manusia musyrik bersama Tuhannya, karena sesungguhnya dia mengikuti hawa nafsunya, Allah berfirman: "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" (QS. Al-Furqan: 43), sama juga mengajak Muslim kepada keselamatan hanya untuk diri sendiri, padahal bersama adanya keluasan Allah, dalam masalah ini Nabi Saw. bersabda: "Seorang Muslim sebagian dari keselamatan Muslim-Muslim yang lainnya dari lisannya dan tangannya" (HR. Bukhari Muslim: juz 1 hal. 13)
Islam adalah agama yang diridhai oleh Allah, Allah lah yang menamakan Islam dengan kata ini dan meridhainya karena sesungguhnya Beliau adalah Tuhan semesta alam, Allah SWT. berfirman: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3). Allah SWT. juga berfirman: "(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia." (QS. Al-Hajj: 78), Allah menamakan Muslim kepada orang Islam, karena kekhususan-kekhususan dari umat yang terakhir ini. Umat yang memiliki agama yang terakhir, Nabi Saw. yang terakhir. Sesungguhnya orang yahudi menamakan dirinya sendiri yang sebagai binaan dakwahnya Nabi Musa as., Allah SWT. bercerita dalam firman-Nya: "Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."" (QS. Al-'Araf: 156). Begitu juga orang-orang Nasrani menamakan dirinya sendiri, Allah SWT. berfirman: "Dan diantara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya." (QS. Al-'Araf: 156). Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam karena telah mengkhususkan dan melebihkan kita atas semua ciptaannya yang sempurna.
Dan kita mengharapkan dengan jawaban ini kita dapat mengetahui tentang kedudukan Islam antara risalah-risalah yang terdahulu, juga kita mengerti tentang agama kita secara keseluruhan, bagaimana dinamakan dengan kata Islam dan penemaan pengikut Islam yaitu Muslim. Shalawat serta salamnya Allah atas Nabi kita, keluarganya, dan para sahabatnya, dan Allah SWT. yang paling tinggi dan paling mengetahui.
Jumat, 08 Januari 2010
Allah swt & nabi muhammad saw dilecehkan di wordpress
Akankah kita tinggal diam saja menyaksikan Tuhan dan Nabi kita dilecehkan secara terbuka? Jangan! Mari kita bergerak melawannya. Kita bisa melawannya, antara lain dengan beramai-ramai melaporkan blog tersebut sebagai spam. (Laporan ini akan lebih efektif bila orang yang melaporkan ini ada banyak.)
Caranya: Klik : disini. Pada kotak “Why”, tuliskan alasan pelaporan kita. Misalnya: “This beritamuslim blog is named in a manner that misleads its readers into thinking that the owner is a Muslim. Whereas in fact, this blog insults muslims along with their properties.”
ini alamatnya blog tersebut yang bernama berita muslim
blog tersebut belum diblokir oleh wordpress, mungkin nanti sudah di blokir..
Jumat, 11 September 2009
Mengapa Laylatul Qadar Lebih Baik dari Seribu Bulan?
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Al-Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam Al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadar: 1-3).
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dibeda-bedakan (dipilah-pilah) segala persoalan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhkhan: 3-4).
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)
Sehubungan Nuzulul Qur’an dalam makna, ayat-ayat tersebut menggunakan kata “Anzala” artinya turun sekaligus. Beda maknanya dengan Nuzulul Al-Qur’an yang menggunakan kata “Nazzala” artinya turun secara bertahap.
Berdasarkan firman Allah tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan Nuzulul Qur’an di sini adalah turun sekaligus. Makna Nuzulul Qur’an inilah yang berkait erat dengan Laylatul Qadar yang ditunggu-tunggu oleh kaum mukminin dan muslimin.
Nuzulul Qur’an ini yang dapat menciptakan perubahan kehidupan manusia, mengefektifkan waktu untuk mencapai tujuan. Karena itulah Allah menyatakan malam Al-Qadar lebih baik dari 1000 bulan = 84 tahun.
Nuzulul Qur’an inilah yang mempersingkat waktu kesempurnaan penyampaian misi Rasulullah saw dalam 23 tahun yang semestinya ratusan tahun seperti para nabi dan rasul sebelumnya.
Jika demikian, Al-Qur’an dalam wujud apa yang turun kepada Rasulullah saw di malam Al-Qadar? Al-Qur’an dalam wujud tekstual atau Ruhul Qur’an? Tekstual jelas bukan, karena itu butuh tahapan waktu. Sehingga makna yang tepat di sini adalah Ruhul Qur’an, energi Al-Qur’an. Makna inilah yang berkait erat dengan malam Al-Qadar, malam penetapan takdir.
Sekiranya umumnya kaum muslimin meyakini makna ini dan mengaplikasikan ke dalam aktivitas kehidupan tentu punya pengaruh yang besar. Bisa jadi akan lebih mengefektifkan waktu dan menciptakan perubahan sebagaimana yang telah dicapai oleh Rasulullah saw dalam mengemban misinya selama dalam 23 tahun.
Tapi disini masih ada persoalan, siapakah yang mampu menerima Ruhul Qur’an pasca Rasulullah saw? Gunung-gunung saja tidak mampu menerimanya sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah swt:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21).
Dari uraian tersebut dapat kita breakdown ke dalam beberapa pertanyaan:
1. Jika Nuzul Qur’an dimaknai turun secara bertahab, bukankah Al-Qur’an dalam makna ini sudah tidak turun lagi? Lalu apa kaitannya dengan Malam Qadar yang terjadi setiap tahun?
2. Jika Nuzulul Qur’an dimaknai turun sekaligus, apakah Ruhul Qur’an itu turun setiap tahun? Kepada siapa Ruhul Qur’an itu turun pasca Rasulullah saw, dan di akhir zaman ini turun kepada siapa? Ke dalam hati seluruh kaum muslimin? Mampukah hati mereka menerima Ruhul Qur’an? Sementara gunung2 saja tak mampu?
3. Jika Ruhul Qur’an turun bersamaan terjadinya Malam Al-Qadar, mengapa tidak menciptakan perubahan yang signifikan bagi kehidupan manusia?
4. Apakah Laylatul Qadar, malam penetapan takdir, dinyatakan lebih baik dari seribu bulan hanya bermakna fadhail (keutamaan) dalam nilai pahala nanti di akhirat? Dan tidak bermakna sebagai energi yang luar biasa yang dapat menciptakan perubahan, dan mengefektikan produktivitas manusia dalam kehidupan?
5. Apa yang dimaksudkan Laylatul Qadar sebagai malam penetapan takdir? Jika demikian, penetapan takdir terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan pada malam Al-Qadar, apa maksudnya?
6. Apa yang dimaksud dengan kalimat surat Ad-Dukhkhan ayat 4: Fîhâ Yufraqu amrun hakîm ( di dalamnya dibeda-bedakan segala persoalan yang penuh hikmah).
Bagi yang berminat Doa2 Ramadhan, Amalan praktis dan doa-doa pilihan lainnya, silahkan download di:
http://www.tokoku99.com/product-islami/e-book.html
http://id.alfusalam.web.id
Tak perlu khawatir tentang keshahihannya karena Amalan dan doa2 tersebut bersumber dari Ahlul bait (sa) dari Rasulullah saw.
Wassalam
Syamsuri Rifai
http://shalatdoa.blogspot.com
Minggu, 19 April 2009
Organisasi Muslim Mengeluarkan Fatwa Ringtone Al Quran Haram!
Termasuk Mode Getar ketika Shalat.
Saudia Arabia (SuaraMedia News) - Para Ulama organisasi muslim di kota Kanpur Indian utara telah mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan rekaman bacaan ayat ayat AlQuran sebagai ringtone telepon genggam mereka.
Para Ulama tersebut menolak penggunaan ayat ayat Al Quran sebagai ringtone karena kebanyakan pengguna ringtone tersebut hanya memasukkan penggalan penggalan ayat yang tidak lengkap saja. Terkadang juga meskipun ayat yang dimasukkan lengkap, namun pengguna telepon genggam pasti langsung menjawab telepon tanpa menyelesaikan ayat tersebut terlebih dahulu.
Kelompok Ulama tersebut juga melarang pengguna telepon genggam untuk mensetting telepon mereka dengan fungsi vibrasi (getar) pada saat Sholat dan melarang penggunaan telepon genggam dalam kamar mandi.
“Jika telepon anda berdering dan kebetulan anda menggunakan ringtone ayat Al Quran berbunyi di dalam toilet, maka sesungguhnya anda telah melakukan perbuatan dosa”, Ulama senior sebuah organisasi Islam Ghyasuddin, kepada Press Association.
Bukan pelarangan yang pertama kali
Sebenarnya pelarangan ini bukanlah yang pertama kalinya dilakukan. Larangan penggunaan ayat Al Quran sebagai ringtone telah lama dilakukn pada akhir 2007. Dewan tersebut, dalam sebuah pertemuan di Saudi Arabia, untuk pertama kalinya melarang penggunaan ringtone karena hal tersebut sama dengan menggeser makna Al Quran sebagai Kitab Suci Umat Muslim yang harus dihormati.
“Sangatlah merendahkan nilai Al Quran jika dalam penggunaannya dalam hal apapun dipotong potong. Terutama dalam kasus ini, ketika Al Quran hanya digunakan sebagai penanda suatu hal tertentu (telepon atau SMS yang masuk) tanpa mendengarkannya dengan hikmat dan bahkan mengabaikan maksudnya, hal inilah yang terjadi ketika anda menggunakannya sebagai ringtone. Namun, merekam maupun menyimpan ayat ayat suci Al Qur an di dalam telepon genggan anda dengan tujuan untuk mengamalkan ataupun mendengarkannya dengan sungguh sungguh merupakan perbuatan yang sangat terpuji, ” Pernyataan seorang cendekiawan yang menghadiri pertemuan di Mekah.
Selama pertemuan 6 hari tersebut, yang dipimpin oleh Mufti Abdul Aziz Al Asheikh, 70 cendekiawan dan pemuka agama Islam membahas beberapa permasalahan yang berhubungan dengan Islam. (bk/arb) (dikutip Oleh SuaraMedia.Com)
